Rabu, 16 Februari 2011

cara install linux

apa sih repositori itu????

Apa sih Repository itu ?




Sudah merupakan hal yang wajib bagi kita semua untuk bisa menambahkan sebuah paket / library (dalam hal ini pada OS linux) untuk mendukung kinerja sebuah aplikasi. Bagi anda yang mengenal dunia linux khususnya yang berbasis GUI (General User Interface) lebih mengetahui apa yang saya maksudkan di sini tapi yang belum mengetahui tidak ada salahnya untuk tahu. Toh ini juga media berbasis web dibawah komunitas linux yang dibangun bertujuan untuk mereka yang mau belajar opensource :d.

Baiklah langsung saja apa yang saya maksudkan disini adalah Repository.Mungkin bagi anda yang tidak mengetahui apa artinya ada baiknya untuk sejenak melakukan searching melalui paman google atau langsung aja berkunjung ke Wikipedia untuk mengetahui apa artinya :).

Singkatnya repository ini adalah sebuah dukungan dari beberapa paket yang dijadikan satu bundel atau generalisasi untuk mendukung end user dalam hal menginstall beberapa aplikasi yang ia kehendaki exp : aplikasi film, music dan aplikasi lainnya.

Peran serta Repository ini sendiri sangatlah dibutuhkan bagi penggemar linux baik kalangan pemula maupun diatasnya yang notabane-nya ada beberapa kalangan yang enggan untuk bermigrasi dikarenakan adanya aplikasi yang belum di support oleh linux :-p. Hal ini bisa saja diatasi jikaulah yang mengatakan tersebut sudah mau mencari / googling sejenak. Adapun hal tersebut memang belum ada mungkin bisa dijadikan sebuah kontribusi atau masukkan kepada pengembang software untuk mendukung aplikasinya diatas mesin Linux. Jadi, masih banyak cara untuk kita bisa memberikan sumbangsih terhadap bangsa ini sebagaimana wujud kita dalam mencerdaskan SDM di atas software
yang legal tentunya :).

Repository yang paling banyak dijumpai pada saat ini dan telah banyak diunduh bisa anda temui pada distro turunan Debian seperti ubuntu dimana sudah ada mirornya baik server luar maupun lokal yang telah banyak menyediakan repositorynya exp: server Foss, kambing, komo, its dan masih banyak lagi (googling aja). Tidak hanya turunan debian saja masih banyak lagi distro2 lain yang mungkin bisa dijadikan acuan bagi anda untuk mau bermigrasi ke opensource exp: opensuse, pclinuxos, fedora, mandriva dan masih banyak lagi dimana saya sendiri belum sempat mencoba untuk mengeksplorenya. Jadi yang perlu anda ketahui di sini adalah linux sekarang tidak kalah bersaing dengan beberapa “pesaing lainnya” yang memang sudah familiar dikalangan end user. Untuk itu bagi pengembang linux / komunitas terus melakukan inovasi yang tidak ada kata berhenti untuk bisa grow up menjadikan sejajar ataupun lebih dari yang lainnya tak hanya handal pada satu bidang saja melainkan beberapa bidang lainnya juga.

Untuk anda yang mungkin jarang sekali online dan keseringan offline serta mengalami kesulitan untuk mendapatkan repository. Kali ini tidak perlu khawatir apalagi di jaman serba digital saat ini, karena repository bisa di dapatkan pada bundel yang dikemas dalam bentuk CD / DVD . Tinggal anda mencari beberapa situs / website yang menyediakan repository dalam bentuk CD / DVD ini sesuai distro / varian Linux anda. Memang untuk pertama kali berkenalan dengan si pinguin ini agak sedikit gampang dan sedikit susah tapi apabila sudah dekat sekali awas!!! anda bisa terjangkit demamnya :d.

Rabu, 21 November 2007

Bagaimana Memulai

Banyak yang ingin menulis ke media tapi bingung bagaimana memulainya. Ada dua cara:

1. Mempelajari teori menulis baru praktik;
2. Learn the hard way atau menulis dulu teori belakangan.

Terserah kita mana yang lebih enak dan nyaman. Tapi, berdasarkan pengalaman rekan-rekan di India yang tulisannya sudah banyak dimuat di media, alternatif kedua tampaknya lebih bagus. Rizqon Khamami, Zamhasari Jamil, A. Qisai, Tasar Karimuddin, Beben Mulyadi, Jusman Masga, Irwansyah, dan lain-lain semuanya belajar menulis dengan langsung mengirim tulisannya. Bukan dengan belajar teori menulis lebih dulu.

Saya sendiri merasa alternatif kedua lebih enak. Ini karena kemampuan daya serap saya terhadap teori sangat terbatas. Saya pernah mencoba belajar teori menulis. Hasilnya? Pusing. Bukan hanya itu, bahkan dalam belajar bahasa Inggris pun, saya cenderung langsung membaca buku, koran atau majalah. Pernah saya coba belajar bahasa Inggris dengan membaca grammar, hasilnya sama: pusing kepala.Sulitkah Menulis?Sulitkah menulis? Iya dan tidak. Sulit karena kita menganggapnya sulit. Mudah kalau kita anggap “santai”. Eep Saifullah Fatah, penulis dan kolomnis beken Indonesia, mengatakan bahwa menulis akan terasa mudah kalau kita tidak terlalu terikat pada aturan orang lain. Artinya, apa yang ingin kita tulis, tulis saja. Sama dengan gaya kita menulis buku diary. Setidaknya, itulah langkah awal kita menulis: menulis menurut gaya dan cara kita sendiri. Setelah beberapa kali kita berhasil mengirim tulisan ke media — dimuat atau tidak itu tidak penting– barulah kita dapat melirik buku-buku teori menulis, untuk mengasah kemampuan menulis kita. Jadi, tulis-tulis dahulu; baca teori menulis kemudian. Seperti kata Rhoma Irama, penyanyi kesayangan Malik Sarumpaet.Topik Tulisan

Topik tulisan, seperti pernah saya singgung dalam posting beberapa bulan lalu, adalah berupa tanggapan tentang fenomena sosial yang terjadi saat ini. Contoh, apa tanggapan Anda tentang bencana gempa dan tsunami di Aceh? Apa tanggapan Anda seputar pemerintahan SBY? Apa tanggapan Anda tentang dunia pendidikan di Indonesia? Dan lain-lain.

Sekali lagi, usahakan menulis sampai 700 kata dan maksimum 1000 kata. Dan setelah itu, kirimkan langsung ke media yang dituju. Jangan pernah merasa tidak pede. Anda dan redaktur media tsb. kan tidak kenal. Mengapa mesti malu mengirim tulisan? Kirim saja dahulu, dimuat tak dimuat urusan belakangan. Keep in mind: Berani mengirim tulisan ke media adalah prestasi dan mendapat satu pahala. Tulisan dimuat di media berarti dua prestasi dan dua pahala. Seperti kata penulis dan ustadz KBRI, Rizqon Khamami.

Rendah Hati dan Sifat Kompetitif

Apa hubungannya menulis dengan kerendahan hati? Menulis membuat kita menjadi rendah hati, tidak sombong. Karena ketika kita menulis dan tidak dimuat, di situ kita sadar bahwa masih banyak orang lain yang lebih pintar dari kita. Ini terutama bagi rekan-rekan yang sudah menjadi dosen yang di mata mahasiswa-nya mungkin sudah paling ‘wah’ sehingga mendorong perasaan kita jadi ‘wah’ juga alias ke-GR-an.

Nah, menulis dan mengririm tulisan ke media membuat kita terpaksa berhadapan dengan para penulis lain dari dunia dan komunitas lain yang ternyata lebih pintar dari kita yang umurnya juga lebih muda dari kita. Di situ kita sadar, bahwa kemampuan kita masih sangat dangkal. Kita ternyata tidak ada apa-apanya. Ketika kita merasa tidak ada apa-apanya, di saat itulah sebenarnya langkah awal kita menuju kemajuan.

Kita juga akan terbiasa menghargai orang dari isi otaknya bukan dari umur atau senioritasnya apalagi jabatannya.
Di sisi lain, membiasakan mengirim tulisan ke media membuat sikap kita jadi kompetitif. Sekedar diketahui, untuk media seperti KOMPAS, tak kurang dari 70 tulisan opini yang masuk setiap hari, dan hanya 4 tulisan yang dimuat. Bayangkan kalau Anda termasuk dari yang empat itu. Itulah prestasi. Dan dari situlah kita juga belajar menghargai prestasi dan keilmuan serta kekuatan mental juara seseorang.

It’s your choice: you are either being a loser or a winner. Being a loser is easy. Just sit down in the chair, behind your desk. And feel comfort with your hallucination of being “a great guy” which is actually not, as a matter of fact.[]

Sumber: www.fatihsyuhud.com